Select Menu

Tarbiyah

Kontroversi

Hikmah

Gambar tema oleh konradlew. Diberdayakan oleh Blogger.

Oase Iman

Pengetahuan

Harun Yahya

Keluarga

Info

Internet

Dakwah Sekolah

KH Abdullah Gymnastiar, rupanya sangat prihatin menyaksikan riuhrendahnya pesta perayaan pelantikan Jokowi.

Amanah rakyat yang kini disandang di bahu Jokowi, bukanlah sesuatu yang ringan, karena menyangkut seluruh rakyat, bukan sebatas relawan, simpatisan dan pendukung Jokowi, melainkan seluruh rakyat Indonesia.

Jelas kiranya, amanah rakyat itu sesuatu yang sifatnya sakral, sehingga tak layak disandingkan dengan pesta pora yang amat sangat duniawi dan materialistis.

Secara tegas, KH Abdullah Gymnastiar, yang bisa dipanggil Aa Gym menegaskan,  bahwa amanah yang diterima, tak perlu disikap dengan kegembiraan yang berlebihan, terutama karena Jokowi belum membuktikan kesuksesan kerja sebagai Presiden RI.

"Bila diberi amanah jabatan, tak perlu terlalu gembira, apalagi dengan hura2 karena kerja juga belum dan akhirnya tak tau akhirnya seperti apa," demikian tulis Aa Gym di akun twitter pribadi miliknya, Senin, 20 Oktober 2014.

Aa Gym benar, pestapora relawan Jokowi yang diklaim sebagai "Pesta Rakyat" memang tak sepatutnya digelar. Bukan saja karena amanah bukanlah sesuatu yang perlu disambut dengan hura-hura, melainkan juga karena ada klaim sepihak bahwa itu adalah pesta milik rakyat.

Begitu banyak uang dihamburkan atas nama rakyat, sementara kerja pun belum dimulai.. 

http://www.pkspiyungan.org/2014/10/aa-gym-pesta-sebelum-kerja.html

Segala puji milik Allah Swt. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah Saw.

"Demi waktu, sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan saling nasehat-menasehati dalam menetapi kebenaran dan nasehat-menasehati dalam menetapi kesabaran." (QS. AI ‘Ashr [103]:1-3).

Saudaraku, waktu adalah karunia yang sangat berharga. Betapa pentingnya waktu hingga Allah Swt. bersumpah dalam AI Quran, “Wal 'Ashri (Demi waktu)", “Wadh Dhuha (Demi waktu dhuha)", "Wal Lail (Demi waktu malam)".

Waktu adalah modal yang sangat besar untuk hidup kita. Setiap orang di dunia ini mendapatkan modal yang sama yaitu 24 jam sehari, 168 jam seminggu, 672 jam sebulan, dan seterusnya. Akan tetapi, mengapa kemudian ada orang yang sukses dan ada yang tertinggal, ada yang beruntung ada dan ada yang merugi?

Mari kita simak keteladanan yang ditunjukkan oleh suri teladan kita Rasulullah Saw., para sahabat dan generasi setelahnya. Rasulullah Saw. dalam tempo 23 tahun mampu membawa Islam menjadi peradaban besar di dunia, hingga sekarang dan masa yang akan datang. Insya Allah.

Beliau juga mengikuti 80 peperangan dalam kurun waktu 10 tahun dalam rangka membela Islam. Dalam waktu-waktu tersebut beliau juga sukses memberikan contoh bagaimana menyayangi sesama dan menjadi pemimpin yang adil lagi bijaksana.

Zaid bin Tsabit ra. bisa menguasai bahasa Parsi hanya dalam waktu dua bulan saja. Kemudian beliau dipercaya sebagai sekretaris Rasulullah Saw. dan penghimpun ayat-ayat Al Quran dalam sebuah mushaf. Sedangkan Abu Hurairah ra. masuk Islam dalam usia 60 tahun, dan ketika wafat di usia 80 tahun beliau telah menghafal 5.374 hadits secara akurat. Beliau adalah sahabat yang paling banyak menghafal hadits.

Masih banyak contoh-contoh lainnya selain ketiga contoh tersebut di atas, contoh-contoh yang memperlihatkan bagaimana seseorang memanfaatkan waktunya sebaik mungkin. Sehingga tak heran jika dalam kehidupan sehari-hari kita melihat ada orang yang sukses dalam bisnisnya, ada juga yang tidak. Ada yang berprestasi di sekolahnya, ada juga yang tidak. Ada yang mampu menambah hafalan surat-surat dalam Al Quran, dan ada yang tetap saja malah berkurang karena lupa.

Mengapa hal itu terjadi? Tiada lain adalah karena waktu yang dimiliki manusia itu sama, namun cara menggunakannya yang berbeda. Ada yang menggunakannya sebaik mungkin. Ini adalah wujud rasa syukur atas nikmat waktu yang diberikan Allah Swt. Ada juga yang menggunakan waktu seenaknya saja, dan ini adalah wujud dari mengkufuri nikmat waktu. Sedangkan barangsiapa yang mengkufuri nikmat Allah, maka ia sama saja dengan mencelakai dirinya sendiri.

Karena Allah Swt. berfirman, “Sesungguhnya jika kalian bersyukur, pasti kami akan menambah nikmat kepada kalian. Dan jika kalian mengingkari nikmat-Ku, maka sesungguhnya adzab-Ku amat pedih." (QS. Ibrahim [14]: 7).

Sedangkan Rasulullah Saw sudah mengingatkan kita bahwa nikmat waktu ini seringkali dilupakan oleh manusia. Dalam haditsnya beliau bersabda, “Dua kenikmatan yang sering dilalaikan oleh sebagian besar manusia adalah nikmat sehat dan nikmat waktu luang”. (HR. Bukhari dan Ibnu Majah).

Orang yang memanfaatkan waktu sebaik mungkin akan beruntung baik di dunia maupun di akhirat. Mengapa? Bayangkan, jika dalam perlombaan balap sepeda, si X berhasil mengayuh dua putaran setiap detik, sedangkan si Y satu putaran setiap detik. Maka, dengan meyakinkan si X yang akan menjadi juara, karena pada detik yang sama ia dapat berbuat lebih banyak daripada si Y. Ini baru dalam urusan dunia.

Bayangkan juga jika si X senantiasa menunaikan shalat di awal waktu, tidak ketinggalan ia menunaikan juga shalat sunnah dan tilawah. Ia juga menyempatkan diri menunaikan dhuha di waktu pagi dan tahajud di malam hari. Ia pun tetap bekerja normal sebagaimana manusia lainnya. Sedangkan si Y berleha-leha. Lebih banyak santai, belanja, nonton dan ngobrol tak karuan. Manakah yang akan beruntung di akhirat kelak? Tentulah si X.

Kerugian orang-orang yang lalai akan semakin bertambah karena waktu yang telah ia lewati tidak akan pernah kembali. Orang yang beruntung akan sangat bersyukur, dan orang yang rugi akan sangat menyesal. Sedangkan penyesalan tak akan mengubah keadaan.

Oleh karena itulah Rasulullah Saw. bersabda, “Manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara, [1] Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, [2] Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, [3] Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, [4] Waktu luangmu sebelum datang waktu sibukmu, [5] Hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. Al Hakim).

Saudaraku,mari kita tafakuri hal ini. Renungkanlah bagaimana waktu yang sudah kita lalui. Sudahkah kita mengisinya dengan hal-hal bermanfaat sebagai wujud syukur kita kepada Allah Swt.? Ataukah malah sebaliknya, berlalu begitu saja secara sia-sia?

Renungkanlah dan waktu saat ini dan yang akan datang dengan mengkuatkan tekad bahwa kita akan mengisinya dengan hal-hal yang akan semakin mendekatkan diri kita kepada Allah Swt. Semoga kita tergolong orang-orang yang beruntung di dunia, juga di akhirat. Amiin ya Rabbal ‘Alamin.[*]

http://site.inilah.com/inilahkehidupan/

“- - - Kalau saudara nanti mau milih capres, jangan hanya sibuk dengan berita yah.. Terserahlah saudara mau milih siapa, yang jelas saudara harus tanggung jawab di hadapan Allah, itu aja.. Saya milih, mikir, saya ngga boleh jadi dosa.. Kalau saya melihat seseorang tidak dari pemberitaan saja, tapi benar-benar dari orang yang dekat dengannya, yang tau.. Kalau media, sejujurnya saya kurang begitu percaya sepenuhnya ya, karena ada yang kalau sudah suka, baguuus smua.. Saya lebih senang dari orang yang kenal.. Yang lebih beruntung lagi kalau sayanya mengenal.. Lihat dari orang-orang terdekatnya, lihat dengan siapa dia bergaul.. Kalau gaulnya dengan orang-orang yang jauh dari agama.. Ada orang yang deket dengan agama, itu beda-beda yah.. Saudara bisa lihat siapa kawan dekatnya, karena kawan seseorang tu berpengaruh.. Bergaul dengan penjual minyak wangi, ikut harum.. Bergaul dengan pandai besi, bau bakaran.. Jadi lihat siapa yang ada di dekatnya itu.. Nah, silahkan saja.. - - -”
“- - - Tinggal saudara fikirkan, saudara istikharah, saudara coblos, saudara siap-siap nanti ditanya di akhirat, cuman itu saja yah.. Ngga ada urusan sama saya.. Ngga usah nanya Aa milih yang mana yah.. Bagi saya Indonesia ini negara besar, bagi saya pribadi yah, umat Islam terbesar di dunia ada disini.. Kalau pemimpinnya lebih paham Islam, atau lingkungannya orang-orang yang paham Islam, bisa membantu masyarakat Islam kita lebih mengenal Islam dengan baik, masyarakat rohmatan lil alamin, dunia bisa melihat indahnya Islam di Indonesia kalau pemimpinnya punya komitmen untuk memajukan umat Islam supaya seislami mungkin, rohmatan lil alamin, Setuju..? Kan Rasulullah ketika ditanya ‘ya Rasul mengapa engkau diutus ke bumi?’ - - - ‘Sesungguhnya hamba diutus ke bumi hanyalah untuk menyempurnakan kemuliaan akhlaq’.. Masyarakat Islami adalah masyarakat yang paling mulia akhlaqnya.. Kalau pemimpinnya paham ini, atau lingkungannya paham ini, kita menjadi bangsa berakhlaq, benar…? Tapi kalau pemimpinnya kurang paham Islam, lingkungannya kurang paham, atau kurang suka ke Islam, susah masyarakat Islam dapet lingkungan yang membuat kita sangat baik akhlaqnya.. Islam tidak jadi ancaman, Islam itu rohmatan lil alamin.. Naah makanya saya pengen pemimpin yang semangat gitu, sayang ke Islam tu.. Kita ngga akan dzholim kepada yang minoritas, dan ngga ada dalam Islam pelajaran dzholim, benar…? Jangankan ke minoritas, kita mah ke binatang aja ngga boleh dzholim, ke pohon aja ngga boleh dzholim.. - - - “
“- - - Kalau buat saya pribadi, saya mau milih yang saya kenal dengan baik.. Ada salah satu capres yang udah saya kenal dari tahun 90an, ketemu sering, kalau ada kegiatan di kantornya beliau slalu ngundang untuk ceramah.. Kalau mau bertempur pasukannya, minta do’a.. Waktu di markasnya, kumpul para Ulama.. Dulu tahun 90an ya, saya masih muda dulu.. Diberi kesempatan santri ikut berlatih disana, supaya makin cinta bela bangsa, begitulah.. Jadi, kenal orangnya, ngga dari media.. Kenal, jadi saya tau, ooo gini-gini.. Waktu jaman isu, ooh sebetulnya beda dengan berita.. Lalu ketika sedang berada di sebuah tempat, justru sahabat saya itu kumpulnya juga dengan Ulama, ngebela.. Dan saya ingat pada waktu itu pernah ada kondisi dimana umat Islam bener-bener sedang ditekan oleh seseorang yang berkedudukan tinggi dan tidak suka ke Islam karena non-Islam, ini sahabat saya ini berani lantang untuk menolak pendiskreditan umat Islam ini.. Jadi saya melihat perjuangannya kepada umat Islam, saya memilih karena saya memahami.. 

Kalau yang satu saya belum kenal, belum pernah ketemu, belum tau apa, jadi saya ngga bisa milih, saya takut nanti saya pilih, gitu, itu pengalaman saya pribadi.. Dan satu hal lagi, bagi saya yah hadirin, pemimpin itu bukan yang lagi ada di pohon, diatas, saya diajarin guru saya, bahwa kelapa itu saripatinya keluar kalau, satu, sudah pernah dijatuhin dari atas, bukk! Udah jatuh, dijambak, sreekk sreekkk! Udah dijambak, digetok sampai belah.. Kelapa kan gitu.. Udah digetok, dicungkil.. Udah dicungkil, disisit.. Udah disisit, diparut.. Udah diparut, diperes, kreekkkk! Aaa, barulah keluar saripati.. Kalau masih bertengger diatas, kata guru saya, ‘ngga keluar saripati kematangannya’.. Jadi saya nyari orang yang babak-belur seperti itu.. Bukan karena saya ngalamin babak-belur ya.. Tapi ya fren lah begitu lah hadirin (hadirin terkekeh).. Saya diajarin guru saya begitu dulu, harus nyobain gimana (diambil saripatinya seperti kelapa itu)! Karena dulu Rasulullah juga begitu, ketika mulai risalah kenabian, waahh, kawan jadi lawan, puji jadi caci, sahabat jadi musuh, waahh, tapi lihat kalau sudah begitu bangkit, nah biasanya banyak ilmu dan pengalaman untuk mengatasi masalah.. Saudara boleh beda pendapat, karena nanti kita di akhirat masing-masing.. - - - ”
Link rekaman kajiannya ada di yutup : http://www.youtube.com/watch?v=VKFnf3I8qNk

https://www.facebook.com/yuristayohasari/posts/10203275970214289

ALHAMDULILLAH. Segala puji hanya milik Allah Swt., Dzat Yang Maha Kaya dan Maha Melimpahkan Rezeki kepada seluruh makhluk di alam semesta. Shalawat dan salam semoga selalui terlimpah kepada Rasulullah Saw.


Saudaraku, pernah coba memperhatikan seorang tukang parkir? Perhatikanlah, berbagai jenis dan merek mobil atau motor datang menghampirinya. Dari yang mahal sampai yang murah, dari yang masih mulus sampai yang sudah penyok di sisi-sisinya. Untuk beberapa saat semua kendaraan itu berada di bawah penguasaannya. Namun, tidak lama kemudian diambil kembali oleh pemiliknya.


Perhatikan apa yang terjadi dengan tukang parkir itu. Adakah dia berat hati ketika kendaraan-kendaraan itu diambil kembali oleh pemiliknya? Apakah dia menolak saat para pemilik kendaraan itu hendak mengambil kendaraan mereka? Jawabannya, tentu saja tidak. Mengapa? Karena kendaraan-kendaraan tersebut hanya titipan. Sekali lagi, hanyalah titipan!


Demikianlah pula dengan segala yang kita miliki di dunia ini. Tidakkah kita ingat bahwa ketika kita dilahirkan oleh Ibu kita ke dunia ini, kita lahir tanpa membawa apa-apa walau sehelai benang pun. Kemudian, Allah memberikan rezeki-Nya kepada kita di saat kita belum mampu melakukan apapun selain menangis.


Allah datangkan air susu melalui Ibu kita sehingga energi kita tercukupi dan bisa bertahan hidup. Allah datangkan selimut, minyak kayu putih, sabun, air, dan lain sebagainya dari berbagai arah sehingga segala kebutuhan kita tercukupi. Sampai akhirnya kita bisa sebesar ini, segalanya tiada lain adalah karena kemurahan Allah Swt terhadap kita.


Kemudian, Allah Swt mengkaruniakan berbagai perhiasan dunia kepada kita. Harta kekayaan yang berlimpah, pasangan dan anak-anak. Kita juga dikaruniai kedudukan, jabatan, nama baik di dalam penilaian manusia. Semua itu adalah karena kemurahan Allah terhadap kita selaku makhluk-Nya.


Namun, ingatlah bahwa tidak ada yang abadi selain Allah Swt. Segala yang kita punya itu adakalanya terlepas dari genggaman kita. Baik cepat maupun lambat, harta kekayaan dan segala yang kita miliki tiba-tiba berkurang atau hilang. Tiba-tiba salah satu anggota keluarga yang kita cintai meninggal dunia. Tiba-tiba posisi jabatan kita yang strategis dipindahkan ke posisi lain yang kurang kita sukai. Atau, tiba-tiba nama baik kita rusak di mata manusia oleh fitnah yang tak jelas asal muasalnya. Semua atau salah satu dari kejadian tersebut bisa saja menimpa kita.


Sungguh, setiap apa yang kita miliki adalah titipan Allah, maka sepatutnya pihak yang dititipi menjaga titipan tersebut dengan amanah. Karena setiap kita pasti akan dimintai pertanggungjawaban atas titipan-titipan itu. Allah Swt. berfirman, “Apakah manusia mengira bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)?” (QS. Al Qiyamah [75] : 36).


Tidak sedikit manusia yang menyia-nyiakan titipan Allah Swt. Tidak heran jika ada kejadian orangtua yang menelantarkan anaknya. Atau seorang kaya raya yang menggunakan kekayaannya untuk kemaksiatan. Orang-orang seperti ini bersikap seolah apa yang dimilikinya adalah miliknya.


Saudaraku, harta kekayaan adalah titipan Allah Swt., maka pergunakanlah sesuai dengan petunjuk-Nya. Belanjakanlah di jalan Allah. Pasangan hidup adalah titipan, maka rawat dan bimbinglah ia untuk mencintai Allah. Anak-anak adalah titipan, maka rawat dan didiklah sehingga tumbuh dan berkembang menjadi manusia-manusia berakhlak mulia. Kedudukan atau jabatan adalah titipan, maka jalankanlah dengan amanah, jujur dan bertanggungjawab sehingga bernilai ibadah.


Tak perlu tinggi hati dengan jabatan tinggi, tak usah sombong dengan harta kekayaan yang berlimpah. Anak-anak yang lucu dan pintar, pasangan yang berparas indah, rumah yang megah. Semua itu adalah titipan. Tak penting kekaguman orang lain terhadap kita atas apa yang kita miliki itu. Yang terpenting adalah Allah ridha terhadap ikhtiar kita mengelola semua amanah-Nya itu.


Semua titipan Allah itu sesungguhnya adalah fasilitas untuk kita beribadah kepada-Nya sehingga menjadi jalan keselamatan. Karena, salah mensikapi titipan-titipan itu, maka apa yang kita miliki malah akan menjadi jalan penyesalan.


“Bagi orang-orang yang memenuhi seruan Tuhannya, (disediakan) pembalasan yang baik. dan orang-orang yang tidak memenuhi seruan Tuhan, sekiranya mereka mempunyai semua (kekayaan) yang ada di bumi dan (ditambah) sebanyak isi bumi itu lagi besertanya, niscaya mereka akan menebus dirinya dengan kekayaan itu. Orang-orang itu disediakan baginya hisab yang buruk dan tempat kediaman mereka ialah Jahanam dan itulah seburuk-buruk tempat kediaman.” (QS. Ar Ra’du [13] : 18). [*]

http://site.inilah.com/inilahkehidupan/read/berita/2103175/hikmah-tukang-parkir#.U5xDlnCmjMA

Ustadz Abdullah Gymnastiar mengimbau, kepada masyarakat untuk tidak terlalu larut ke dalam euforia Pilpres 9 Juli mendatang. Pasalnya, Sang Pencipta sebenarnya sudah menakdirkan siapa yang bakal menjadi presiden RI ketujuh.

"Ssst kita jangan ribut dan terlalu serius menghadapi pilpres ini, Alloh sudah tau siapa yang Dia Takdirkan jadi presiden," kata AA Gym melalui akun Twitter, @aagym.

Pondok Pesantren Darut Tauhid di Bandung tersebut mengingatkan, perbedaan pilihan capres yang terjadi di masyarakat hendaknya tidak sampai mengganggu jalinan persaudaraan. Dia menyatakan, pilihan boleh berbeda, tapi silaturahim tetap terjaga.

"Pilpres itu penting, tapi bukan segalanya, jangan sampai merusak pikiran, lisan, hati, akhlaq dan silaturrahim kita semua," ujarnya.

Dai berusia 52 tahun itu mengatakan, sebaiknya para capres tampil jujur di depan publik. Itu lantaran, perilaku yang dibuat-buat atau pencitraan demi mendapat penilaian positif hanya akan mendatangkan kerugian.

"Berani tampil proporsional apa adanya lebih nyaman, perilaku dibuat buat demi penilaian makhluk akan meletihkan dan jelek," kata AA Gym.

http://www.republika.co.id/berita/pemilu/berita-pemilu/14/06/03/n6kgk5-aa-gym-allah-sudah-takdirkan-siapa-jadi-presiden

“(Yaitu) hari di mana harta dan anak-anak tidak berguna. Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati bersih.” (Qur’an Surat Asy Syuaraa 26:88-89)


Setelah pada pembahasan sebelumnya kita sama-sama menelaah tentang betapa pentingnya fokus dalam tobat, maka langkah selanjutnya yang perlu kita lakukan dengan fokus adalah menjaga hati agar tidak ternodai lagi dengan kotoran-kotoran dosa. Penting bagi kita untuk fokus menjaga kebersihan hati dari berbagai penyakit yang bisa merusaknya.


Karena, manakala kita rusak, pasti akan berpengaruh kepada seluruh bagian dari diri kita yang juga akan terbawa rusak. Inilah yang diwariskan oleh baginda Rasululah Saw dalam salah satu haditsnya:


“Sesungguhnya di dalam tubuh ada segumpal darah. Jika segumpal darah itu baik, maka baiklah seluruh tubuh. Namun, jika segumpal darah itu rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, segumpal darah itu adalah hati.” (Hadits Riwayat Bukhori dan Muslim)


Betapa banyaknya manusia yang celaka dalam hidupnya di dunia disebabkan kekotoran hatinya sendiri. Tidak sedikit orang yang iri dengki pada tetangganya, ia melaksanakan hidup di luar kemampuannya, berutang ke sana sini lalu terlilit. Kemudian gelisah, malu, hidupnya tersiksa.


Tidak sedikit juga orang yang ingin cepat naik jabatan, ingin terpandang di mata orang lain karena kedudukan, ingin cepat naik gaji dan tunjangan, lalu ia menempuhnya dengan jalan ketidakjujuran. Ia sikut kanan-kiri, halalkan berbagai cara, tak ragu untuk korupsi, sogok sana sogok sini. Kemudian, rasa takut menyempitkan hatinya. Takut ketahuan oleh aparat hukum, sebelum kemudian ia benar-benar terjerat kasus dan dihukum.


Sungguh naf penyakit hati ini. Ada orang yang oleh Allah Swt dianugerahi kedudukan yang terhormat di hadapan masyarakat, dikaruniai ilmu yang berlimpah. Akan tetapi, sayang sekali ia gunakan semua nikmat Allah itu hanya untuk mencari sanjungan, pujian, dan kekaguman orang lain. Ia belum puas jika belum mendapat itu semua. Ini adalah kufur nikmat yang berawal dari hati yang kotor.


Padahal, kita sesungguhnya tidak menjadi terhormat oleh sebab uang, kedudukan, jabatan, gelar, garis keturunan. Bukan itu yang membuat kita dihormati oleh orang lain. Kita dihormati orang lain adalah karena Allah Yang Maha Pengasih masih menutupi keburukan diri kita di hadapan mereka.


Dan, sesungguhnya Allah yang kuasa memberi kedudukan dan kehormatan kepada kita, dan hanya Allah yang kuasa mengambilnya dari kita. Tidak pernah Allah Swt menyebut bahwa alat ukur kesuksesan kita adalah kekayaan, kedudukan atau kepintaran. Alat ukur kesuksesan kita di hadapan-Nya hanyalah ketakwaan kita.


“…Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kau…” (Qur’an Surat Alhujrot 49:13)


Namun, kita juga berhati-hati karena bukan hanya sombong oleh kekayaan dan kedudukan saja yang menjadi indikasi dari kotornya hati. Melainkan juga sikap minder, rendah diri karena urusan kekayaan dan kedudukan pun adalah indikasi dari kotornya hati. Mengapa? Karena itu berarti dunia mendominasi hatinya. Dua sikap ini sama-sama bentuk dari cinta dunia. Sedangkan cinta dunia mendatangkan berbagai macam penyakit hati.


Segala apa yang ada di alam semesta ini mutlak milik Allah Swt. Rumah yang besar atau kecil, milik sendiri atau kontrakan, kendaraan baru atau lama, mahal atau murah, semua sama saja. Semua adalah milik Allah. Manusia hanya dititipi. Lantas, pantaskah manusia sombong dengan benda titipan Allah atau minder dengan karunia Allah?

Oleh : KH Abdullah Gymnastiar

http://site.inilah.com/inilahkehidupan/read/berita/2103149/fokus-jaga-kebersihan-hati

MARI kita ajukan sebuah pertanyaan, Apakah yang menjadi penyebab amal ibadah kita tidak diterima Allah Swt? Jawaban yang paling mendasar adalah karena salah niat.

Di akhirat kelak ada seorang mujahid yang mati di medan perang, seorang yang rajin sedekah, dan seorang lagi pembaca Al-Quran, namun mereka masuk neraka. Mengapa? Karena salah dalam niat. Mari kita simak keterangan berikut ini.

Abu Hurairoh ra meriwayatkan, bahwa ia pernah mendengar Rasulullah Saw bersabda, Manusia yang pertama diadili padahari Kiamat nanti adalah orang yang mati di medan jihad. Orang itu didatangkan di hadapan Allah. Kemudian, ditunjukkan segala kenikmatan yang telah diberikan kepadanya. Dan, ia mengakuinya.

Allah bertanya kepadanya, Apa yang telah engkau lakukan di dunia? Ia menjawab, Aku telah berperang membela agama-Mu. Lalu, Allah berkata, Engkau berbohong. Engkau berperang agar orang-orang menyebutmu seorang pemberani. Kemudian, Alloh memerintahkan agar amalnya dihitung di pengadilan-Nya. Akhirnya, orang itu dimasukkan ke neraka.

Kemudian, seorang penuntut ilmu sekaligus rajin membaca Al Quran, dihadapkan kepada Allah. Lalu, ditunjukkan segala kenikmatan yang telah diberikan kepadanya. Dan, ia mengakuinya. Allah bertanya, Apa yang telah engkau lakukan di dunia? Dia menjawab, Aku menuntut ilmu, mengamalkannya dan aku membaca Al Quran dengan mengharap ridho-Mu.

Allah berkata kepadanya, Engkau berbohong. Engkau mencari ilmu supaya orang menyebut engkau sebagai seorang alim. Dan, engkau membaca Al Quran agar orang lain menyebutmu rajin membaca Al Quran. Kemudian, Alloh memerintahkan agar amalnya dihitung di pengadilan-Nya. Akhirnya, orang itu dimasukkan ke neraka.

Selanjutnya, seorang kaya raya dan terkenal dermawan, dihadapkan kepada Allah. Lalu, ditunjukkan segala kenikmatan yang telah diberikan kepadanya. Dan, ia mengakuinya. Alloh bertanya, Apa yang telah engkau lakukan di dunia? Ia menjawab, Semua harta yang aku miliki tidak aku sukai, kecuali aku sedekahkan karena-Mu.

Lalu, Allah berkata, Engkau berbohong. Engkau melakukan itu agar orang-orang menyebut engkau sebagai dermawan dan murah hati. Kemudian Allah memerintahkan agar amalnya dihitung di pengadilan-Nya. Akhirnya, orang itu dimasukkan ke neraka.

Abu Hurairah berkata, Kemudian, Rasulullah menepuk pahaku dan berkata, Wahai Abu Hurairoh, mereka adalah manusia pertama yang merasakan panasnya api neraka Jahanam di hari kiamat nanti. (Hadist Riwayat Muslim)

Subhanallah! Padahal bukankah mati syahid itu sangat besar ganjarannya di sisi Allah Swt. Akan tetapi ganjaran yang besar itu tak akan pernah ada jika ternyata orang tersebut salah niat. Tidak fokus dalam niatnya. Betapa rugi sekali orang seperti ini.

Seorang pencari ilmu yang sudah memiliki gelar berderet-deret, pekerjaan yang mentereng dengan gaji yang besar. Namun, ternyata untuk semua hal-hal duniawi itulah dia mencari ilmu. Bukan demi ridho Allah. Demi sanjungan dan penghargaan dari manusia yang memandangnya sebagai orang berilmu. Maka, sia-sialah semua itu di hadapan Allah Swt.

Seorang pembaca Al Quran yang rajin tilawah dan merdu suaranya, namun ternyata bukan ridho Allah yang dikejarnya meski yang keluar dari lisannya adalah bacaan ayat-ayat Al Quran. Ia mengejar decak kagum dari manusia yang menyebutnya sebagai seorang qori atau qoriah. Ia mengejar sertifikat, piala dan hadiah-hadiah dari lomba-lomba pembacaan Al Quran. Maka, semua yang diperbuatnya menjadi percuma di hadapan Allah Swt.

Termasuk juga orang yang bergiat dalam dunia dakwah. Bisa jadi yang ada di dalam hatinya adalah harapan agar dipandang oleh orang sebagai seorang dai. Yang ada dalam pikirannya adalah angka-angka berapa honor yang akan ia terima. Tiidak ada Alloh di hatinya, meski yang ia sampaikan adalah ayat-ayat Al Quran dan hadits-hadits Rasulullah Saw.

Seorang yang gemar mendermakan hartanya, namun bukan penilaian Alllah yang ia harapkan, maka ia telah tersesat dalam niatnya. Apa yang ia harapkan adalah kekaguman orang lain yang memandangnya sebagai seorang dermawan. Apa yang ia harapkan adalah sorotan dan jepretan kamera wartawan yang akan memberitakan perihal kegiatannya membagi-bagi sebagian dari hartanya.

Saudaraku, jadi bukan karena kurang kerja keras, amal menjadi tidak bernilai, tetapi karena salah niat yang tidak fokus kepada Allah Swt.

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku (QS. Adz Dzariyat (51):56).

Jelas sekali ayat ini menegaskan kepada kita dengan terang-benderang bahwa sudah semestinya yang menjadi fokus kita adalah Allah Swt dalam setiap amal perbuatan kita. Sehingga apa yang kita lakukan menjadi bernilai ibadah di hadapan Allah Swt.

Jika Allah Swt menjadi fokus kita, maka niscaya akan tenang hati kita. Mengapa ada orang yang ketika merasa disakiti oleh orang lain, kemudian dia tenggelam dalam rasa kecewa, sakit hati dan dendam berkepanjangan? Kemudian, ia pun tersiksa oleh perasaannya itu. Mengapa demikian? Karena dia hanya fokus kepada mahluk, kepada manusia yang telah menyakitinya itu.

Lain halnya jika orang itu kemudian fokus kepada Allah semata, Dzat yang Maka Kuasa atas segala sesuatu, maka niscaya akan terobati rasa sakit hatinya. Hidupnya akan menjadi tenang dan tenteram kembali. Karena ia yakin segala sesuatu terjadi atas izin-Nya, dan tidak ada kejadian di alam raya ini yang terjadi secara sia-sia, pasti ada kebaikan yang terkadung di dalamnya.

Ingat rezeki, segera fokus kepada Allah yang menggenggam rezeki. Ingat ke anak, segera fokus kepada Allah yang telah menitipkannya kepada kita. Ingat ujian sekolah segera fokus kepada Allah yang telah mengkarunia akal pikiran. Ada yang memfitnah, segera fokus kepada Allah Dzat Yang Maha Mengetahui apa yang benar dan apa yang salah. Punya utang, segera fokus kepada Allah Yang Maha Kaya.

Jika yang menjadi fokus kita hanya Allah, maka Insya Allah, Dia akan membimbing kita dalam setiap aktifitas kita. Sehingga setiap yang kita lakukan bisa mencapai tingkat yang maksimal. Fokus kepada Allah akan menghadirkan semangat yang luar biasa di dalam hati kita. Seperti para mujahidin di medan jihad, ketika hanya Allah yang menjadi fokus tujuan mereka, maka mereka akan melakoni jihad tersebut dengan semangat bergelora tanpa ada rasa takut terhadap makhluk sedikit pun.

Betapa penting untuk fokus hanya kepada Allah Swt, semata. Agar kita semakin semangat melihat diri untuk lurus dalam niat, fokus hanya mengharap ridho Allah, bukan yang selain-Nya. Dan, meraih prestasi terbaik di dunia dan akhirat. [*]

http://nasional.inilah.com/read/detail/2100986/fokus-mengejar-ridho-allah